--

RADIO ikim

Google

sunan kalijaga dan syeh siti jenar part 10

Sunday, September 14, 2008

SUNAN KALIJAGA ( Raden Said)



1. DIUSIR DARI KADIPATEN.
Sunan Kalijaga itu aslinya bernama Raden Said. Putts Adipati Tuban yaitu TumenggungWilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur, walau dia termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.

Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. Tetapi karena melihat keadaan sekitar atau lingkungan yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata maka jiwa Raden Said berontak.

Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban 'di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat jelata.

Rakyat yang pada waktu itu sudah menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.

Walau Raden Said putra seorang bangsawan dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adat isfiadat kebangsawanan.

Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga yang paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui seluk-beluk kehidupan rakyat Tuban.

Niat untuk mengurangi penderiataan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya. Tapi agaknya ayahnya tak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya pula posisi ayahnya sebagai Adipati bawahan Majapahit.

Tapi niat itu tak pernah padam. Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada dalam kamarnya sembari mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an maka sekarang dia keluar rumah.

Di saat penjaga gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya, hal ini dilakukan tanpa pengetahuan mereka.

Tentu saja rakyat yang tak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampu girang menerima rezeki yang tak diduga-duga. Walau tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu sebabnya Raden Said melakukannya di madam hari secara sembunyi-sembunyi.

Bukan hanya rakya yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang Kadipaten juga merasa kaget, hatinya kebat-kebit, soalnya makin hari barang-barang yang,hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu makin berkurang.

la ingin mengetahui .siapakah pencuri barang hasil bumi di dalam gudang itu. Suatu malam ia sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah tak jauh dari gudang Kadipaten.

Dugaannya benar, ada seseorang membuka pintu gudang,'hampir tak berkedip penjaga gudang itu memperhatikan, pencuri itu. Dia hampir tak percaya, pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.

Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani.


Kuatir dianggap membuat fitnah, maka penjaga gudang itu minta dua orang saksi dari sang Adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.

Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. Ketika ia hendak keluar dari gudang sambil membawa bahan-bahan makanan tiga orang prajurit Kadipaten menangkapriya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa ke hadapan
ayahnya.

Adipati Wilatikta marah melihat perbuatan anaknya itu. Raden said tidak menjawab untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu.

Tapi untuk itu Raden Said harus mendapat hukuman, karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukannya maka dia hanya mendapat hukuman cambuk dua ratus kali pada tangannya. Kemudian disekap selama beberapa hari, tak boleh keluar rumah. Jerakah Raden Said atas
hukuman yang sudah diterimanya ?.

Sesudah keluar dari hukuman dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya. Apa yang dilakukan Raden Said selanjutnya ?

Dia mengenakan, topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di Kadipaten Tuban. Terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat Kadipaten yang curang.

Harta hasil rompokan itupun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya. Tapi ketika perbuatannya ini mencapai titik jenuh ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.

Ada seorang pemimpin perampok sejati yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kaya, kemudian pemimpin rampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said, bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said juga.

Pada suatu madam, Raden Said yang baru saja meriyelesaikan shadat Isya' mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok.

Dia segera mendatangi tempat kejadian itu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin mereka yang sedang asyik memperkosa seorang gadis cantik.

Raden Said mendobrak pintu rumah si gadis yang sedang diporkosa

Didalam sebuah kamar dia melihat seseorang berpakain seperti dirinya mengenakan topeng serupa sedang berusaha mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia sudah selesai memperkosa gadis itu. Raden said berusaha menangkap, perampok itu. Namun pemimpin
rampok itu berhasil melarikan diri. Mendadak terdengar suara kentongan di pukul bertalu-talu, penduduk kampung lain berdatangan ke tempat itu.

Pada saat itulah si gadis yang baru diperkosa perampok tadi mengham-burkan diri dan menangkap erat-erat tangan Raden Said. Raden Said pun jadi panik dan kebingungan. Para pemuda dari kampung lain menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden said ditangkap dan dibawah ke rumah kepala desa.

Kepala desa yang merasa penasaran mencoba membuka topeng di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu sang kepala desa jadi terbungkam:

Sama sekali tak disangkanya bahwa perampok itu adalah putra junjungannya sendiri yaitu Raden Said. Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejadian itu.


Sang kepala desa masih berusaha menutup aib junjungannya. Diam-diam ia membawa Raden Said ke istana Kadipaten Tuban tanpa diketahui orang banyak.

Tentu saja sang Adipati menjadi murka. Raden Said yang selama ini selalu merasa sayang dan selalu membela anaknya kali ini juga naik pitam.

Raden Said diusir dari wilayah Kadipaten Tubon.. "Pergi dari Kadipaten Tuban ini ! Kau telah mencoreng nama baik keluargamu sendiri ! Pergi ! jangan kembali sebelum kau dapat mengge-
tarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang sering kan baca di malam hari !,,

Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban ternyata telah menutup kemungkaran kearah itu. Simah sudah segala harapan sang Adipati.

Hanya ada satu orang yang tak dapat mempercayai perbuatan Raden Said, yaitu Dewi Rasawulan, adik Raden Said itu berjiwa bersih luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji. Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasihan, tanpa sepengetahuan dia meninggalkan istana Kadipaten Tuban untuk mencari ayah dan ibunya Raden Said untuk diajak pulang.


2. MENCARI GURU SEJATI.
Kemanakah Raden said sesudah diusir dari Kadipaten Tuban ? Ternyata ia .mengembara tanpa tujuan pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi. Selama bertahun-tahun dia menjadi perampok budiman.

Mengapa disebut perampok budiman ? Karena basil rampokan itu tak pernah dimakannya. Seperti dulu, selalu diberikan kepada fakir miskin, Yang dirampoknya hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata, dan tidak mau membayar zakat.

Di hutan Jatiwangi dia membuang nama aslinya. Orang menyebutnya sebagai Brandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seseorang berjubah putih lewat di hutan Jatiwangi. Dari jauh Brandal Lokajaya mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan.

Terus diawasinya orang tua berjubah putih itu. Setelah dekat dia hadang langkahnya. Tanpa banyak bicara lagi dicabutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih. Karena tongkat itu dicabut dengan paksa maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun, sepasang matanya mengeluarkan air walau tak ada suara tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang diPegangnya.

Ternyata tongkat itu bukan terbuat dali emas, hanya gagangnya saja terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari, seperti emas.

RadenSaid heran melihat orang itu menangis. Segera diulurkannya kembali tongkat itu, "jangan menangis, ini tongkatmu kukembalikan".

"Bukan tongkat ini yang kutangisi," ujar lelaki itu sembari memperlihatkan beberapa batang rumput di telapak tangannya. "Lihatlah ! Aku telah berbuat dosa, tadi,,.berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi".

"Hanya beberapa lembar rumput. Kau merasa berdosa ?" tanya Raden Said heran.

"Ya, memang berdosa ! Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata kucabut guna makanan ternak itu tidak mengapa. Tapi untuk suatu kesia-siaan benar-benar suatu dosa ! jawab lelaki itu. Hati Raden Said agak tergetar atas jawaban mangandung nilai iman itu.

"Anak muda sesungguhnya apa yang kau cari di hutan ini ?"
"Saya menginginkan harta ?'
"Untuk apa ?'
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita'. "Hem, sungguh mulia hatimu, Sayang .....caramu mendapatkannya yang keliru'.
"Orang tua ................apa maksudmu ?".
"Boleh aku bertanya anak muda ?" desak orang tua itu, 'Jika kau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakan mu itu benar ?' "Sungguh bau pakaian Perbuatan itu bodoh,'saja,,, sahut Raden Said. "Hanya menambah kotor dan bau pakain itu saja.

Lelaki itu tersenyum, "Demikian pula amat yang kau lakukan, kau bersedekah dengan barang yang didapati secara haram, merampok atau mencuri itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing'.

Raden Said tercengang. Lelaki itu meianjutkan ucapannya, "Allah itu adalah zat yang baik atau halal",

Raden Said makin tercengang mendengar keterangan itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini.

Di pandangnya sekali lagi wajah lelaki berjubah putih itu. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai tertarik pada lelaki berjubah putih itu.

'Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Kau tidakbisa merubahnya hanya dengan memberi bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Kau harus memperingatkan para penguasa zalim agar mau merubah caranya
memerintah yang sewenang-wenang, kau juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupan!',

Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang didam-bakannya selama ini. "Kalau kau tak mau kerja keras, dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah maka ambillah itu. Itu barang halat. ambillah sesukamu!". Berkata demikian lelaki itu menunjuk pada sebatang pohon aren. Seketika pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya. Sepasang mata Raden Said terbelalak. Dia adalah seorang pemuda sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dikecapnya. Berbagai ilmu yang aneh-aneh telah dipelajarinya. Dia mengira orang itu mempergunakan ilmu sihir, kalau benar orang itu mengeluarkan ilmu sihir pasti dapat mengatasinya.

Tapi, setelah ia mengerahkan ilmunya, pohon aren itu tetap berubah menjadi emas. Berarti orang itu tidak mempergunakan sihir, la benar-benar merasa heran dan penasaran, ilmu apakah yang telah dipergunakan orang itu sehingga mampu merubah pohon aren berubah menjadi emas
Selama beberapa saat Raden Said terpukau di tempatnya berdiri.

Dia mencoba memanjat pohon aren itu. Benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya, la ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu. Mendadak buah aren itu rontok, berjatuhan mengenai kepala Raden Said. Pemuda'itu terjerembab ke tanah. Roboh dan pingsan, Ketika ia sadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti aren-aren lainnya. Raden Said bangkit berdiri, rnencari orang berjubah putih tadi, Tapi yang dicarinya sudah tak ada di tempat.

Ucapan orang tua itu masih terngiang di telinganya. Teniang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing. Tentu berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.

Raden Said mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat akhirnya hal yang terkait melihat bayangan orang itu dari kejauhan.

Sepertinya santai saja orang itu melangkahkan kakinya, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi, demikianlah, setelah tenaganya lerkuras habis dia baru sampai di belakang lelaki berjubah putih itu.

Lelaki berjubah putih itu berhenti, bukan karna kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tak ada jembatan, dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia harus menyeberang.
"Tunggu ....
"ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi.
"Sudilah Tuan menerima saya sebagai murid ' pintanya. "Menjadi muridku?" tanya orang itu sembari menoleh. "Mau belajar apa?'.
"Apa saja, asal tuan menerima saya sebagal murid '
"Berat, berat sekali afiak muda, bersediakah kau menerima syarat-syaratnya?'.

"Saya bersedia ...'
Lelaki itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali menemuinya.

Raden Said bersedia menerima syarat ujian itu. Selanjutnya lelaki itu menyeberangi sungai. Sepasang mata Raden Said terbelalak heran, lelaki itu berjalan diatas air bagaikan berjalan di daratan saja. Kakinya tidak basah terkena air. la semakin yakin bahwa calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali.

Setelah lelaki itu hilang daft pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya di dalam Al Qur'an yaitu kisah Ashabul Kahfi, maka ia segera berdo'a kepada Tuhan supaya ditidurkan seperti para pemuda di gsa Kahfi ratusan tahun silam.
Do'anya dikabulkan. Raden Said tertidur dalam semedinya selama riga tahun. Akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya. Setelah tiga tahun lelaki berjub .ah putih itu datang menemui Raden Said Tapi Raden Said tak bisa dibangunkan. Barulah setelah mengumandangkan adzan, pemuda itu membuka sepasang matanya.

Tubuh Raden Said dibersihkan, diberi pakaian baru yang bersih. Kemudian dibawa ke Tuban. Mengapa ke Tuban? Karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang. Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya, yaitu tingkat para waliyullah. Di kemudian had Raden Said terkenal sebagai Sunan Kalijaga.

Kalijaga artinya orang yang menjaga sungai. Karena dia pernah bertapa di tepi sungai. Ada yang mengartikan Sunan Kalijaga adalah penjaga aliran kepercayaan yang hidup pada mnsa itu. Dijaga maksudnya supaya tidak membahayakan ummat, melainkan diarahkan kepada ajaran
yang benar.

Ada juga yang mengartikan legenda pertemuan Raden Said dengan Sunan Bonang hanya sekedar simbol saja. Kemanapun Sunan Bonang pergi selalu membawa tongkai atau pegangan hidup, itu artinya Sunan Bonang selalu membawa agama, membawa iman sebagai penunjuk jalan kehidupan Raden Said kemudian disuruh menunggul tongkat atau agama di tepi sungai. Itu artinya Raden Said diperintah untuk terjun ke dalam kancah masyarakat Jawa yaqg banyak mempunyai aliran kepercayaan dan masih berpegang p/~da agama lama yaitu Hindu dan Budha. Sunan Bonang mampu berjalan diatas sungai tanpa amblas ke dalam sungai. Bahkan sedikit pun ia tidak terkena percikan air sungai. Itu artinya Sunan Bonang dapat bergaul dengan masyarakat yang berbeda agama tanpa kehilangan identitas agama yang dianut oleh Sunan Bonang sendiri
yaitu Islam.

3. KERINDUAN SEORANG IBU
Setelah bertahun-tahun ditinggalkan kedua anaknya, permaisuri Adipati Walatikta seperti kehilangan gairah hidup. Terlebih setelah usaha Adipati Tuban menangkap para perampok yang mengacau Kadipaten Tuban membuahkan hasil. Hati ibu Raden Said seketika berguncang.
Kebetulan saat ditangkap oleh prajurit Tuban, kepala rarnpok itu mengenakan pakaian dan topeng yang persis dikenakan Raden Said.

Rahasia yang selama ini tertutup rapat terbongkarlah sudah. Dari pengakuan perampok itu tahulah Adipatti Tuban bahwa Raden Said tidak bersalah.

Ibu Raden Said menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar telah menyesal mengusir anak yang sangat disayanginya itu Sang Ibu tak pemah tabu bahwa anak yang didambakannya itu bertahun-tahun kemudian Sudah kembali ke Tuban. Hanya saja tidak langsung ke Istana Kadipaten Tuban, melainkan ke tempat tinggal Sunan Bonang.

Untuk mengobati kerinduan sang Ibu. Tidak jarang Raden Said mengerahkan ilmunya yang tinggi. Yaitu membaca Qur'an dari jarak jauh lalu suaranya dikirim, ke.istana Tuban.

Suara Raden Said yang merdu itu benar-benar menggetarkan dinding- dinding, istana Kadipatin Bahkan mengguncangkan isi hati Adipati Tuban dan lstrinya. Tapi Raden Said, masih belum menampakkan diri. Banyak tug'as yang masih dikerjakannya. Diantaranya menemukan adiknya kembali.

Pada akhimya, dia kembali bersama adiknya yaitu Dewi Rasawulan. Tak terkirakan betapa bahagianya AdipaQ Tuban dan istrinya menerima kedatangan putra-putri yang sangat dicintainya itu.

Karana Raden Said tidak bersedia menggantikan kedudukan ayahnya akhhirnya kedudukan Adipati Tuban diberikan kepada cucunya sendiri yaitu putra' Dewi Rasawulan dan Empu Supa.

Raden Said meneruskan pengembaraannya. Berdakwa atau menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah hingga ke Jawa Barat. Beliau sangat arif dan bijaksana dalam berdakwah sehingga dapat diterima dan Dianggap sebagai Guru Suci se Tanah Jawa, dari petani, pejabat, pedagang, tiibangsawan dan raja-raja dapat menefima ajarhn Sunan Kalijaga yang berciri khas Jawa namun tetap Islami. Dalam mia lanjut beliau memilih adilangu sebagai tempat tinggalnya yang terakhir. Hinga sekarang beliau dimakamkan di Kadilangu, Demak. Semoga amal perjuangannya diterima
di sisi Allah.

4. MURID-MURID SUNAN KALIJAGA
Murid-murid Sunan Kalijaga banyak sekali, seperti Sunan Bayat, Sunan Geseng, Ki Ageng Sela, Empu, Supa dan lain-lain. Di sini kami kisahkan tentang Sunan Bayat dan Syekh Domba '

SUNAN BAYAT DAN SYEKH DOMBA..
Bupati Semarang pada wahtu itu bernama Ki Pandhanarang. la terkenal sebagai seorang bupati yang kaya raya. Disamping sehari-hari dikenal sebagai sorang bupati, ia juga berbakat sebagai seorang pedagang. Nah, karena mentalnya mental pedagang maka dia suka keluyuran keluar masuk pasar setiap pagi.

Ia pandai mengambil keuntungan dari setiap usahanya, la berdagang emas intan, permata .hingga sapi, kerbau dan kambing. Kekayaannya pada saat itu sungguh di aras rata-rata kekayaan pejabat. Istrinya banyak, anaknya banyak dan relasinya juga banyak sehingga kedudukannya luar
biasa kuatnya. Tak ada seorang pun yang mampu menggoyangnya bahkan pejabat, di tingkat pusat sekalipun yang mampu mengoyangnya. Sayang ada satu sifatnya yang tak baik yaitu kikirnya setengah mati, kikir alias bakhil alias cethil bin medhit!

la mempunyai beberapa kendaraan bagus danjempolan. Pada jaman ini bisa sekelas BMW namun pada saat itu adalah seekor kuda terbaik, dad membutuhkan berkarung-karung rumput segar untuk santapan kuda clan sapinya, Suatu ketika di musim kemarau, para pegawainya yang bertugas mencari rumput agak terlambat menyediakan santapan kudanya. Nah, pada saat itu datanglah seorang penjual rumput memasuki halaman rumahnya.

Umumnya pada waktu itu sepikul rumput seharga dua puluh lima ketheng. Tapi ia menawarnya dengan harga lima belas ketheng. Anehnya tanpa berbelit-belit penjual rumput itu memberikannya begitu saja.

Esoknya penjual rumput bercaping lebar itu datang lagi. Kali ini ia datang lebih pagi dengan membawa rumput yang lebih segar dan kemann.

Bertanya Ki Pandhanarang, "Pak Tua, sepagi ini kau sudah membawa rumput sesegar ini.,Dari mana kau memperolehnya?".

. "Dari Gunung Jabalkat, Tuan .... "jawab si penjual rumput. Ki Pandhanarang merasa heran, sebab Gunung dabalkat adalah tempat yang sangat jauh sekali. Setelah rumput itu dibayar seperti harga
kemarin orang itu tidak segera beranjak pergi.

"Hei pak Tua, apalagi yang kau tunggu?"
"Hamba ingin minta sedekah Tuan.!"

Ki pandhanarang merogoh sakunya tanpa menoleh ia lemparkan uang seketheng di hadapan kaki si penjual rumput lalu ia beranjak pergi.

Tapi si penjual rumput buru-buru maju menghadang "Hamba tidak minta sedekah uang, yang hamba minta adalah bedhug berbunyi di Semarang".

Ki Pandhanarang mendelik penasaran, Minta bedhug berbunyi di. Semarang? Itu sama halnya dengan permintaan mendirikan masjid, dan menyebarkan agama Islam di Semamng. Ah, Jangankan berdakwah wong shalat lima waktu saja ia sudah enggan melaksanakannya.
"Kau jangan minta yang aneh~aneh Pak Tua. Sudah ambil uang itu dan cepat pergi dari sini".
"Hamba tidak butuh uang. Dapatkah uang dan harta menjamin keselamatan kita di akhirat kelak?'.

Ki Pandhanarang merah wajahnya pertanda marah. "Hai Pak Tua! Jangan menyepe]ehkan uang dan harta. Dengan uang dan harta itulah seseorang terangkat derajatnya dan clihormati semua orang".

Dengan beraninya penjual rumput itu berkata. "Hamba kira tidak! Justru orang yang menjadi budak daft harta akan menjadi orang yang b-ina-dina dan tidak berbudi pekerti karena lerbiasa menghalalkan segala cara!".

"Pak Tua! Bicaramu makin tak karuan, aPakah dengan pekerjaan sebagai penjual rumput itu kau merasa mulya. Apakah segala kebutuhan hidupmu, anak istrimu tercukupi?'.

"Soal harta dan kebutuhan hidup hamba se]alu ikhlas terhadap apa yang diberikan Tuhan. Kalau cuma menginginkan emas permata, sekali cangkul hamba bisa setiap saat mengeruknya daft dalam tanah'.

"Huh ! omonganmu semakin sombong saja Pak Tua! Coba buktikan omong besarmu itu! Jika memang terbukti aku akan berguru kepandaianmu, namun jika kau' hanya berkoar atau main sulap maka kau akan kuhukum dengan hukuman seberat-beratnya!'.

Ki Pandhanarang lalu menyuruh pembantunya mengambil cangkul dan diberikan kepada si penjual rumput. "Hayo! buktikan ucapanmu!".

Dengan tenang penjual rumput itu menerima cangkuL Lalu diayunkan pelan, dan ketika ditarik dari dalam tanah keluarlah bongkahan emas permata Semua orang terbelalak takjub melihat kejadian itu. Ki Pandhanarang yang mata duitan itu berdiri terpaku di tempatnya sampai sampai ia tak menyadari lelaki penjual rumput itu sudah pergi meninggalkan halaman rumahnya.

Ki Pandhanarang baru sadar bahwa ia berhadapan dengan 'orang sakti berilmu tinggi. Maka segera dikejarnya ke mana orang itfi pergi, Sebagai seorang lelaki ia ingin memenuhi janjinya. Berguru kepada si penjual rumput. Setelah mengerahkan segenap tenaganya barulah ia
berhasil menyusul lelaki itu.

"Buat apa kau menyusulku? Masih kurangkah bongkahan emas permata tadi bagimu ?" tegur si penjual rumput itu.

"Bukan, bukan untuk itu saya kemari'.
"Lalu apa maumu?".

"Saya ingin berguru kepada, Tuan'. "Berguru? Mau berguru apa, menimbun wang dan harta ?". "Bukan! Saya ingin memperdalam agama Islam sehingga nantinya dapat saya gunakan untuk membimbing rakyat Semarang'.

'Jadi kau mau Memenuhi permintaanku untuk membunyikan bedbug di Semarang?".
"Benar Tuan".
"Berkorban dengan segala harta dan jiwa?".
"Saya bersedia...'.
"Kalau begitu kau harus menjalankan ibadah selama hidupmu, jangan sampai tertidor menegakkan shalat lima waktu. Kau harus beramal, dirikan masjid dari memberikan hartamu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang berhak menerimanya. Jangan sekali-kali kau terpikat oleh harta kecuali hanya sekedarnya saja sebagai bekal ibadah Orang


berguru itu hapir meninggalkan rumah, maka jika segala hal yang kupesan tadi sudah kau laksanakan segeralah kau susul aku ke Guaung Jabalkat".
"Wahai Tuan yang arif dan bijaksana, ijinkanlah saya mengetahui siapakah gerangan Tuan ini sesungguhnya ?".

Aku adalah Sunan Kalijaga yang diperintah para dewan wali untuk mengajakmu bergabung sebagai anggota Walisongo, menggantikan Syekh Siti Jenar yang telah dihukum mati".

Mendengar Sunan Kalijaga serta merta Ki Pandhanarang berlutut untuk menghormat, namun seketika itu juga Sunan Kalijaga lenyap dari pandangan matanya.

Ki Pandhanarang pulang ke rumahnya. Kini ia berubah total. Dulu pelit menjadi dermawan sekali. Suka bersedekah, la juga yang memprakarsai dan menanggung biaya untuk pembangunan masjid di Semarang. la juga yang memilih kayu terbaik beserta kulit sapi yang sangat bagus
untuk digunakan sebagai bedhug.

la membayar zakat sebagaimana seharusnya setiap muslim yang diwajibkan, la menyantuni anak vatim dan fakir miskin. Semua itu dilakukan dengan ihlas karena Allah. Bukan sekedar untuk publikasi agar namanya terkenal Setelah tiba saatnya bermaksud menyusul Sunan Kalijaga di
Gunung Jabalkat.

Salah seorang dari istrinya memaksa hendak ikut ke Gunung Jabalkat mendampingi dirinya.

"Baiklah, kau boleh ikut tapi jangan membawa harta, ltulah pesan guruku, harta hanya menjadi penghalang bagi tujuan luhur cita-cita kita".

Keduanya lalu berpakaian serba putih. Keduanya berjalan kakl ke Gunung Jabalkat. Ki Pandhanarang berjalan di muka dengan membawa tongkat biasa. Istrinya berjalan di belakang dengan membawa tongkat bambu yang di dalam lubangnya diisi dengan emas dan permata.

Ki Pandhanarang yang berjalan di depan dicegat kawanan rampok, namun karena ia tidak membawa harta ia segera dilepaskan begitu saja.

Sebaliknya, Nyai Pandhanarang dicegat riga perampok Tongkatnya dirampas, isinya dikeluarkan dan dijadikan rebutan. tiga perampok itu bersorak-sorai kegirangan setelah mendapat emas dan permata milik Nyai Pandhanarang. Sementara Nyai Pandhanarang manangis tersedu-sedu.


la berteriak-teriak memanggil suaminya yang berjalan jauh di depan. "Kakang mas...! apakah kau sudah lupa pacia istrimu ? lni ada orang tiga berbuat salah . Hingga sekarang tempat kejadian itu dinamakan SALATIGA.

Akhirnya Nyai Pandhanarang dapat menyusul suaminya. Suaminya tidak kaget mendengar penuturan istrinya karena ia sudah tahu bahwa sejak berangkat darr rumah istrinya memang membawa emas dan permata, "Itulah, kau tidak mematuhi saran guruku. Harta hanya menjadi'penghalang tujuan luhur kita. Sekarang berjalanlah di muka".

Nyai Pandhanarang kemudian berjalan di muka. Tidak beberapa lama kemudian Ki Pandhanarang dicegat seorang perampok yang dikenal sebagai Ki Sambangdalan.

"Serahkan hartamu atau kau akan kuhajar hingga babak belur!' demikian ancam Ki Sambangdalan.

"Aku tidak membawa harta!" jawab Ki Pandhanarang.
Perampok itu tidak percaya ia merampas tongkat Ki Pandhanarang.Tentu saja tongkat itu ticlak acla emasnya karena hanya terbuat daft kayu "Dimana kau sembunyikan hartamu?' harclik Ki Sambangdalan. "Aku tidak membawa harta!" Jawab Ki Panclhanarang sambil terus
melangkah, Anehnya Ki Sambangdalan membiarkan saja korbannya berjalan, la hanya berani mengancam saja tapi tidak berani memukuli Ki Pandhanarang. Ki Sambangclalan terus mengikuti ke mana Ki Panclhanarang berjalan sambil terUs mengeluarkan ancaman. Lama-lama Ki Panclhanarang bosan clan risih menclengar ancaman Ki Sambangclalan. Maka ia berkata,'Kau
ini bengal, keras kepala seperti clomba saja!".

Aneh, seketika kepala Ki Sambangclalan berubah menjacli kepala seekor domba atau kambing. Tapi ia tidak menyadarinya, la terus mengikuti kemana Ki Pandhanarang pergi. Suatu ketika keduanya sampai di .tepi sungai. Melihat air Ki Sambangclalan merasa risih, ia takut terkena basah, lalu ia melihat bayangannya sendiri di air jernih maka menjerifiah ia. Wadlhuuuh! ampuuuuun, mengapa kelalaku berubah menjadi domba?". '*Itu karena kesalahanmu sendiri', ujar gi Pandhanarang. "Kembalikan ujud kepalaku seperti semula..." pinta Ki Sambangdalan.
Ki Pandhanarang tidak menjawab. Ki Sambangdalan menjadi takut, maka ia terus ikut kemanapun Ki Pandhanarang pergi.

Perjalanan pun sampai di tempat tujuan, yaitu Gunung Jabalkat. Tapi pada saat itu Sunan Kalijaga sedang berdakwah keluar daerah. Ki Pandhanarang berujar bahwa jika Ki Sambangdalan ingin menjadi manusia normal maka ia harus bertirakat dan bertobat. Untuk menebus dosanya Ki
Sambangdalan harus rnengisi jun (padasan) dengan air dibawah bukit. Jun itu tidak tertutup sehingga apabila Ki Sambangdalan sampai di atas bukit airnya sudah habis. Tapi karena ingin kepalanya kembali seperti se-mula maka ia tidak putus asa, setiap hari dilakukannya pekerjaan itu sambil beristighfar, tobat minta ampun kepada Tuhan.

Pada suatu hari Sunan Kalijaga datang ke tempat itu. Mereka bertiga segera duduk bersimpuh. Secara ajaib kepala Ki Sambangdalan kembali seperti ujudnya semula. Jun tempat wudlu tiba-tiba penuh dengan air tanpa ada yang mengisinya. Ketiga orang itu akhirnya belajar dengan tekun ilmu syariat dan hakikat agama Islam atas bimbingan sunan Kalijaga yang diberi gelar Guru Suci lng Tanah Jawa.

Akhirnya mereka dapat mencapai tataran yang tinggi berkat ketekunan dan kesabarannya. Ki Pandhanarang menjadi seorang Wali dan disebut dengan gelar Sunan Bayat karena menyebarkan agama Islam di"daerah Bayat. Sementara Ki Sambangdalan juga menjadi seorang walt
dan disebut sebagai Syekh Domba karena kepalanya pernah menjadi domba.

Sunan Kalijaga memang sengaja menyaclarkan Bupati Semarang tersebut untuk menjadi pengganti Syekh Siti Jenar yang telah dihukum matt karena dianggap sesat dan berlawanan dengan ajaran Walisengo.

Setelah menjadi walt Ki Pandhanarang atau Sunan Bayat mempunyai karomah, diantaranya adalah pada saatu ketika ia menyamar sebagai pelayan tukang pembuat kue srabi. Ikut berclagang ke pasar sambil membawakan kayu bakar.

Pacla suatu hart pasar sangat ramai banyak orang membeli kue srabi, karena laris kayunya habis. Majikannya marah-marah karena Sunan Bayat tidak membawa kayu yang banyak sehingga tidak cukup digunakan melayani para pembeli.

"Kau teledor ! Sekarang bagaimana ? Apakah tanganmu itu dapat kau gunakan Sebagai pengganti kayu bakar ?" hardik si majikan. Tanpa pikir panjang lagi sunan Bayat memasukkan tangannya kedalam tungku dapur dan tangan itu menyala-nyala mengeluarkan apl.

Gemparlah hari itu suasana pasar banyak orang nonton tangan yang mengeluarkan apl dan banyak pula orang yang membeli kue Srabi.

Setelah tahu bahwa pelayannya adalah Sunan Bayat mantan Bupati Semarang maka penjual kue Srabi itu minta ampun berkali-kali, akhirnya suami istri penjual kue srabi itu menjadi pengikut Sunan Bayat yang setia.

Konon, Bayat berasal dari kata Bari'at yang artinya sumpah setia atau tempat pelantikan para wali. Menurut Bapak KH. Nur Miftah dari Bli-tar sekumpulan rombongan pengurus yayasan atau pengurus masjid berziarah ke makam para wali (Walisongo). Terakhir kalinya mereka akan menuju Bayat. Dan di tempat pelantikan para wali ini seseorang akan nampak bakat dan keahlian masing-masing di kepengurusan, pemimpin rornbongan yang sudah ahli akan dapat menerangkan hasil ziarah dari para anggotanya berdasarkan ilham yang tergambar pada tingkah laku
para peziarah.





SUMBER dibawah: LINK sila berkunjung

Ajaran Sunan Kalijaga Tentang Cupu Manik Astagina

Salah satu peninggalan dari nenek moyang kita, yang perlu diuraikan agar menjadi pedoman hidup menuju masyarakat yang sejahtera adalah Asta-brata. Asta artinya delapan, brata artinya tindakan. Jadi, Asta-brata dapat diartikan sebagai delapan macam tindakan. Asta-brata ini diambil dari inti sari wasiat Cupu Manik Asta Gina, atau pegangan hokum bagi para dewa. Konon dengan berpegang pada hokum ini, para dewa dapat memimpin umat manusia menuju kesejahteraan dan kedamaian.

Kalau setiap orang, terutama para pemimpin, berpegang pada asta-brata, maka masyarakat yang sejahtera tidak mustahil terwujud di bumi ini. Adapun asta-brata secara mudah dan jelas digambarkan atau diwujudkan dalam rupa :


1. Wanita: wanita,

2. Garwa; jodoh
3. Wisma : rumah
4. Turangga : kuda tunggangan
5. Curiga : keris, atau senjata
6. Kukila : burung berkutut
7. Waranggana : ronggeng- penari wanita
8. Pradangga : gamelan-bebunyian berirama


Orang atau pemimpin yang utama harus memiliki (mengalami) delapan hal tersebut diatas.Banyak orang yang salah paham, berusaha mempunyai delapan rupa tersebut dalam wujud sebenarnya. Hal demikian ini takkan terwujud. Sesungguhnya delapan hal tersebut sekadar kiasan, dan bukan berarti setiap orang harus memiliki barangnya, tetapi memiliki atau mengalami arti dan wangsitnya.


Wanita, artinya seorang perempuan, yang elok dan cantik, siapapun yang melihat pasti ingin memilikinya. Maka yang dimaksud dengan wanita ini adalah suatu keindahan, sebuah cita-cita yang tinggi. Agar cita-cita itu dapat tercapai, maka orang perlu berusaha sekuat tenaga, belajar, tirakat dan sebagainnya, sebagaimana seorang pemuda yang ingin menggaet dan memiliki gadis cantik.


Garwa, artinya jodoh, suami istri, yang sehati. Garwo sering diartikan sigaraning nyawa, belahan jiwa, jiwa satu dibelah dua atau dua badan satu nyawa. Jadi garwa mengandung arti bahwa setiap orang harus dapat menyesuaikan diri, bisa bergaul dengan siapapun, semua orang dianggap sebagai kawan, hidup rukun dan damai, mencintai sesama, tidak membeda-bedakan orang. Semuanya dianggap sebagai garwa, teman sehidup semati.


Wisma, artinya rumah. Rumah adalah tempat berlindung memiliki ruangan yang luas berpetak-petak untuk menyimpan aneka macam barang. Semuannya dapat dimasukkan kedalam rumah. Demikianlah, setiap orang hendaknya bersifat rumah, yakni dapat menerima siapapun dan membutuhkan perlindungan, sanggup menyimpan dan mengatur segala sesuatu, pun dapat mengeluarkan pikiran dan bertindak bijaksana dan teratur menurut tempat, waktu dan kedaannya.


Turangga, berarti kuda tunggangan, yang kuat dan bagus. Kuda tunggangan bisa berlari cepat, bisa berlari pelan, bisa berjalan sambil menari-nari. Sebaliknya kuda tunggangan juga bisa berlari cepat dengan arah yang tak menentu, bisa terguling kedalam jurang, tergantung orang yang memegang tali kekang. Demikian halnya diri: badan jasmaniah, panca indra dan nafsu kita merupakan kuda tunggangan. Sedangkan jiwa adalah pengendaranya. Bila jiwa dapat menguasai, mengatur dan mengekang diri, maka pergaulan hidup kita akan teratur dengan baik. Sebaliknya, bila jiwa tak dapat menguasai diri, maka hidup kita akan seperti kuda tunggangan yang liar, berlari kesana kemari dan akhirnya tergelincir.


Curiga, artinya keris, senjata tajam yang dipuja-puja. Maka perlulah tiap orang terutama para pemimpin memiliki persenjataan hidup yang lengkap, kepandaian, keuletan, ketangkasan dan lain-lain. Begitu pula pikiran harus tajam, mampu menebak dengan dengan tepat, agar dapat bertindak tepat pula untuk kebahagiaan masyarakat.


Kukila,
artinya burung, burung berkutut yang dipelihara di Jawa, untuk didengarkan suaranya, yang merdu, enak didengar, menentramkan sanubari. Demikianlah, setiap kata yang keluar dari mulut hendaknya enak didengar, lemah lembut, menentramkan orang yang mendengarkannya. Setiap kata yang keluar harus tegas dan bersifat memperbaiki dan membangun, agar siapapun yang mendengar bisa terpikat dan mengindahkannya.


Waranggana, artinya tandak atau ronggen, untuk pandangan waktu menari. Pada zaman dewa-dewa, ini disebut Lenggot-bawa. Peraturannya seperti ini : seorang warangga menari di tengah kerumunan orang, bersama seorang lelaki yang ikut menari. Diempat penjuru ada penari laki-laki yang menari, seakan-akan ikut menggoda si waranggana agar memalingkan mukanya dari yang lelaki yang tengah menari.


Maknah gambaran di atas adalah: dalam usaha meraih cita-cita yang muliah ( waranggana), pasti akan banyak kita jumpai godaan yang mencoba menghalang-halangi pencapaian cita-cita tersebut.
DUA DUNIA PETILASAN SUNAN KALIJAGA Sunan Kali Jaga Full Movie
Sunan Kali Jaga Full Movie ZIARAH SUNAN KALIJAGA DUA DUNIA PETILASAN SUNAN KALI JAGA DOT 02

No comments:

Related Posts with Thumbnails
--------------- Related Posts with Thumbnails
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Debu - Cinta Saja (CintaMu Dalam Hatiku)

Popular Posts

Labels

( Raden Said) (1) (Rahasia Keramat Wali) (1) af'al asma' (1) Akhir Tahun (1) akhir waktu Asar (1) Aku adalah harta yang tersembunyi (1) Al-Ghazali Menuju Tasawuf (1) Allah dapat dikenal (1) Asy-Syeikh (1) Baitul Makmur (1) Bertasauf Mengikuti Sunnah (1) Bertemu Allah (1) Bhah Agong (1) Cinta Rasul (1) Ciung Wanara (1) CUBAAN MENCURI JASAD RASULULLAH (1) Dakwah Dalam Kubur(GUSNUR)Malang (1) DAN MAKJUJ (1) dan suluhlah kedalam diri sendiri (1) Dari mana kita datang (1) dibaca 3 kali (1) didunia fana (1) Ditemukan Manusia (1) Doa (1) DOA MENGHINDARI DARI (WABAK) (1) dunia kelab dan semantara (1) dunia kosong (1) dunia palsu (1) ghaib (1) ghaib sahaja (1) Gunung Tidar (1) GURU MURSYID (1) HABIB LUTFI (1) Habib Rizieq (1) hayatilah (1) hisham (1) IBLIS DAN MANUSIA (1) IMAM GHAZALI BERPESAN (1) ISKANDAR ZULKARNAIN (1) islam sufism shahadah shahada (1) JIN (1) JIN BAWA GARAM .manusia membuat masiat (1) Jiwa yang Merdeka (1) Junaid Al-Baghdadi (1) kampong kosong (1) KELAHIRAN YAKJUJ (1) Kembara ke Sidratul Muntaha (1) KETURUNAN FATIMAH (1) Kiblat Malaikat (1) Kisah Legenda (1) KIsah Nabi Muhammad (1) KISAH NABI MUSA (1) KISAH NABI NUH AS (1) KISAH PARA NABI (untuk iktibar) (1) Kitab Iblis (1) Makam (1) Masjid Besar Bandar Kelang (1) Maulana Malik Ibrahim ( SUNAN GRESIK ) (1) mengenal (1) Mengenal diri (2) Mengenal Diri Melalui Tidur (1) Misteri Bulan Mengambang (kuliah) (1) MUFTI SYED ISA SEMAIT (1) Muhammad bin Abdullah As-Suhaimi (1) muslims (1) NABI AYUB (1) NABI MUSA LARI DARI MESIR (1) naqshbandi dhikr (1) NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH (1) OPICK - tombo ati (1) pada wajah diri kita dan pada wajah alam (1) paku pulau jawa (1) Pandanglah sifat Allah (1) penglihatan makrifat (1) Peristiwa Penting Bulan Rabiul Akhir (1) Prabu Jayabaya (Kitab Musarar) (1) RAWA PENING (1) Saidina Umar ibni al-Khattab (1) Sebelum Zaman Wali (2) selidiklah (1) Semut Bertasbih Kepada Allah SWT’ (1) Setan Kober (1) shaykh (1) Shaykh Hisham Kabbani (1) SIAPAKAH ANAK-CUCU MANUSIA YANG TERSELAMAT DI DALAM BAHTERA NABI NUH ALAIHISSALAM ? (1) sifat (1) sufi (1) SUNAN AMPEL (1) Sunan Gunung Jati (1) SUNAN KALIJAGA (1) Tentang Iskandar Zulkarnain (1) Terjemahan.. Surah Al Kahfi (1) tiliklah (1) TUAN GURU HAJI SHAARI (1) Ustaz Don (1) Ustaz Haji Shaari Mohd Yusu (1) Yakjud dan Makjud.. (1) Zahirnya wajah Allah dipersada alam (1)

DUA DUNIA