--

RADIO ikim

Google

sunan kalijaga dan syeh siti jenar part 10

Tuesday, June 3, 2008

Syekh Maulana Ibrahim ( SUNAN BONANG)


1. BRAHMANA DARi HINDIA.

Agama Islam yang menyebar luas di Tanah Jawa cukup mengemparkan masyarakat dari belahan dunia lain· Termasuk para pendeta Brahmana dari India. Salah seorang Brahmana bernama Sakyakirti merasa penasaran.

Maka bersama beberapa orang muridnya ia berlayar menuju Pulau Jawa. Dibawanya pula kitab-kitab refrensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan berdebat dengan para penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

"Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk
berdebat dan adu kesaktian" ujar Brahmana itu sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar' "Jika dia kalah maka akan kutebas batang lehernya. Jika dia yang menang aku akan berlutut untuk mencium telapak kakinya. Akan kuserahkan jiwa ragaku kepadanya.-
Murid-muridnya yang selalu berdiri dan mengikutinya dari betakang menjadi saksi atas sumpah yang diuCapkan di tengah samodra.

Namun kefika kapal layar yang ditumpanginya sampai di perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-fiba bergotak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul jadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya Brahmana Sakyakirti mencoba menempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya. Satu dua kali hal itu dapat dilakukannya namun terjangan ombak yang kelima kali membuat kapal layarnya langsung tengelam ke dalam laut. Dengan susah payah dia man-
cabut beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samodra, Walaupun pada akhirnya ia dan para pengkutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab refrensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah tenggelam ke dasar laut.


Padahal kitab-kitab itu didapatkannya dengan susah payah. Cara mempelajarinya pun tidak mudah, la harus belajar bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di Perairan Laut jawa, tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah di telan air laut.

Tapi niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut, la dan murid-muridnya telah terdampar , dipantai yang tak pernah dikenalnya, la agak bingung, harus ke mana untuk mencari Sunan Bonang. Ia menoleh ke sana ke mari Mencari seseorang untuk dimintai petunjuk jalan. Namun tak terlihat seorangpun di pantai itu.

Saat hampir putus asa, tiba.tiba di kejauhan ia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat, la dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan lelaki itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

"Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama'
besar bernama Sunan Bonang, dapatkah kisanak memberitahu di mana
kami bisa bertemu dengannya " kata sang Brahrnana.

"Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang ?" tanya lelaki itu. 'Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan,' kata sang Brahmana.' Tapi sayang kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam, masih ada beberapa
hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan

Tanpa banyak bicara lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya yang menancap di pasir, mendadak tersemburtah air dari lubang bekas tongkat itu menancap, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

"Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut ?' tanya lelaki itu. Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebatlah haii sang Brahmana sembari menduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Murid-murid sang Brahmana yang sejak tadi sudah kehausan langsung saja menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti mabok karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung memandangnya dengran rasa kuatir jangan-jangan muridnya itu akan segera
garam.

"Segar Aduh segarnya ! "seru murid-murid sang Brahnmrm dengan girangnya. Yang lain segera berebutan untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Brahmana Sakyakirti tercengang, bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar, la mencicipinya sedikit. Memang segar ranya. Rasa herannya makin menjadi-jadi, terlebih jika berpikir 'tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu dalam menciptakan lubang air yang memancar, dan ....mampu menghisap kitab-kitab yang telah tenggelam ke dasar laut. Pastilah orang berjubah putih itu bukan orang sembarangan, la sudah mengerahkan ilmunya untuk mendeksi apakah semua itu hanya tipuan ilmu sihir ?

Temyata bukan ! Bukan ilmu sihir, tapi kenyataan,

Seribu Brahmana di India tak mampu melakukan hal ini pikir sang Brahmana. Dengan rasa was-was, takut dan gentar ia menatap wajah orang berjubah putih itu.

"Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini ?" tanya sang Brahmana dengan hati kebat-kebit. "Tuan berada di pantai Tuban !" jawab lelaki itu. Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat menduga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri.

"Bangunlah, untuk apa kau berlutut kepadaku ? Bukankah sudahkah ketahui dari kitab-kitab yang kau pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah yang Maha Agung !' Kata lelaki berjubah putih yang tak lain memang Sunan Bonang adanya.

"Ampun ! Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya ...... rintih sang Brahmana. " Lo? Bukankah kau ingin berdebat denganku; juga mau mengadu kesaktian ? "tukas Sunan Bonang.

"Mana saya berani melawan Paduka,'tentulah ombak badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan Paduka, kesaktian Paduka tak terukur tingginya llmu Paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti.

"Kau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai," ujar ' SUnan Bonang.' Hanya Allah yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya, dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang !".

Sang Brahmana merasa malu. Memang kedatangannya bermaksud' jahat. Ingin membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam Kitab-ktab yang telah dipelajari terbukti. Bahwa barang siapa memusuhi para wali-Nya, maka Allah akan mengumuman perang kepadanya.

Menantang Sunan Bonang sama saja dengan menantang Tuhan yang mengasihi Sunan Bonang itu sendiri.

la bergidik ngeri saat teringat bagaimana dirinya terombang-ambing diterjang ombak badai, berarQ Tuhan sendiri yang telah memberinya pelajaran supaya mengurungkan niatnya memusuhi Sunan Bonang. Ia percaya, jika niatnya dilaksanakan bukan Sunan Bonang yang kalah atau
marl tapi dia sendirilah yang bakal binasa.

Maka sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya menantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan.

"Kanjeng Sunan, sudilah menerima saya sebagai murid ....
"kata Brahmana itu kemudian.


Jangan tergesa-gesa, "ujar Sunan Bonang. "Kau harus mempelajari dan mengenal Islam lebih banyak lagi, lebih lengkap lagi. Sebab apa Yang kau pelajari hanya sebagian-sebagian saja. Jika kau sudah memahami Islam secara keseluruhan maka kau boleh pilih, tetap memeluk agama lama atau menerima Islam sebagai agamamu yang terakhir".

Sekali lagi sang Brahmana merasa malu. Ternyata Sunan Bonang bersifat arif dan bijaksana, tidak memaksakan kehendak walau sudah berada di atas angin. Seandainya Sunan Bonang memperbolehkannya untuk berlutut dia akan bersujud dan menyembah sepasang kakinya.

"Bawa semua kitab-kitabmu, mar isinya kita bahas bersama-sama. "kata Sunan Bonang sembari melanjutkan langkahnya. Brahmana Sakyakirti dan murid-muridnya segera mengumpulkan kitab-kitab yang tercecer lalu mengikuti langkah Sunan Bonang.

Pada akhirnya ia dan murid-muridnya rela masuk Islam atas kesadarnnya sendiri, dan menjadi pengikutnya yang setia.


2. ASAL-USULNYA.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Ibrahim. Putra Sunan dan Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila. Ampel Dewi Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adalah putri Prabu
Kertabumi. Dengan demikian Raden Makdum Ibrahim adalah salah seorang
Pangeran Majapahit karena 'ibunya adalah putri Majapahit dan .ayahnya
adalah menantu Raja MajaPahit.

Sebagai seorang Wall yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se-Tanah Jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disiplin.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau fiadha para Wali itu 'lebih berat dari pada orang aware. Raden Makdum Ibrahim adatah calon wall yang besar, maka Sunan Ampel sejak dini juga mempersiapkan sebaik mungkin,

Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang, yaitu negeri Pasai. Keduanya menambah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama ahti tasawwuf yang berasal dari Bagdad, Mesir,. Arab
dan Persi atau Iran.


Sesudah belajar di Negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim dari Raden Paku'.pulang ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikaan Pesantren di Giri sehingga terkenal sebagai Sunan Girl. Raderi Makdum lbrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban, dan daerah Sempadan Surabaya.

3. BIJAK DALAM BERDAKWAH.

Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering
mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan.di bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbullah suaranya yang merdu di telinga penduduk setempat, Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang wall yang mempunyai cita rasa seni yang tinggi, sehingga apabila beliau bunyikan pengaruhnya sangat hebat
bagi para pendengarnya.

Setiap Raden Makdum Ibrahim membunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar membunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden
Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka.

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. Sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.

Murid-murid Raden Makdum lbra'him ini sangat banyak, balk yang
berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara, Surabaya maupun Madura.
Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka
masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang.

5. KARYA SASTRA.

Beliau juga menciptakan karya sastra'yang disebut Sutuk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap karya yang sangat hebat, penuh keindahan dari makna kehidupan beragama. suluk Sunan Bonang disimpan rapi di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Suluk berasal daft bahasa Arab "salakattariiqa" artinya menempuh jalan (tasawwuf) atau tarikat llmunya sering disebut ilmu Suluk. Ajaran yang biasa disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.
Di bawah ini adalah Suluk karya Sunan Bonang yang disebut Suluk Wragul.

Dhandanggula
Wragul 1
Berang-berang jika diteliti ini raga
Belum ketemu hakikatnya
Ada atau tidakkah ia
Sebenarnya aku ini siapa
lmpian beraneka ragam

Kalau dipikirkan
Akhirnya menyedihkan
Yang mustahil banyak sekali
Segala wujud di semesta ini
Tak putus-putus sama sekali.

6. KUBURNYA ADA DUA.

Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di pulau Bawean.

Berita segera disebar keseluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang beracla di pulau Bawean hendak memakamkan ienazah beliau di Pulau Bawean. Tetapi murid-murid yang berasal dari Maclura clan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahanaanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya. Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan milik orang bawean masih ditambah lagi
dengan kain kafan daft Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenaZah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah surabaya. Tetapi ketika berada di perairan .Tuban tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya ticlak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu sebelah barat Masjid Jami' Tuban.

Sementara kain kafan yang clitinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya clengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah karomah atau kelebihan yang cliberikan Allah kepacla beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan di anlara murid-muridnya.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525. Makam yang, dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air.

No comments:

Related Posts with Thumbnails
--------------- Related Posts with Thumbnails

Blog Archive

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Debu - Cinta Saja (CintaMu Dalam Hatiku)

Popular Posts

Labels

( Raden Said) (1) (Rahasia Keramat Wali) (1) af'al asma' (1) Akhir Tahun (1) akhir waktu Asar (1) Aku adalah harta yang tersembunyi (1) Al-Ghazali Menuju Tasawuf (1) Allah dapat dikenal (1) Asy-Syeikh (1) Baitul Makmur (1) Bertasauf Mengikuti Sunnah (1) Bertemu Allah (1) Bhah Agong (1) Cinta Rasul (1) Ciung Wanara (1) CUBAAN MENCURI JASAD RASULULLAH (1) Dakwah Dalam Kubur(GUSNUR)Malang (1) DAN MAKJUJ (1) dan suluhlah kedalam diri sendiri (1) Dari mana kita datang (1) dibaca 3 kali (1) didunia fana (1) Ditemukan Manusia (1) Doa (1) DOA MENGHINDARI DARI (WABAK) (1) dunia kelab dan semantara (1) dunia kosong (1) dunia palsu (1) ghaib (1) ghaib sahaja (1) Gunung Tidar (1) GURU MURSYID (1) HABIB LUTFI (1) Habib Rizieq (1) hayatilah (1) hisham (1) IBLIS DAN MANUSIA (1) IMAM GHAZALI BERPESAN (1) ISKANDAR ZULKARNAIN (1) islam sufism shahadah shahada (1) JIN (1) JIN BAWA GARAM .manusia membuat masiat (1) Jiwa yang Merdeka (1) Junaid Al-Baghdadi (1) kampong kosong (1) KELAHIRAN YAKJUJ (1) Kembara ke Sidratul Muntaha (1) KETURUNAN FATIMAH (1) Kiblat Malaikat (1) Kisah Legenda (1) KIsah Nabi Muhammad (1) KISAH NABI MUSA (1) KISAH NABI NUH AS (1) KISAH PARA NABI (untuk iktibar) (1) Kitab Iblis (1) Makam (1) Masjid Besar Bandar Kelang (1) Maulana Malik Ibrahim ( SUNAN GRESIK ) (1) mengenal (1) Mengenal diri (2) Mengenal Diri Melalui Tidur (1) Misteri Bulan Mengambang (kuliah) (1) MUFTI SYED ISA SEMAIT (1) Muhammad bin Abdullah As-Suhaimi (1) muslims (1) NABI AYUB (1) NABI MUSA LARI DARI MESIR (1) naqshbandi dhikr (1) NEGARA-NEGARA TIMUR TENGAH (1) OPICK - tombo ati (1) pada wajah diri kita dan pada wajah alam (1) paku pulau jawa (1) Pandanglah sifat Allah (1) penglihatan makrifat (1) Peristiwa Penting Bulan Rabiul Akhir (1) Prabu Jayabaya (Kitab Musarar) (1) RAWA PENING (1) Rindu Allah Mahabbatillah by Gus iMM (1) Saidina Umar ibni al-Khattab (1) Sebelum Zaman Wali (2) selidiklah (1) Semut Bertasbih Kepada Allah SWT’ (1) Setan Kober (1) shaykh (1) Shaykh Hisham Kabbani (1) SIAPAKAH ANAK-CUCU MANUSIA YANG TERSELAMAT DI DALAM BAHTERA NABI NUH ALAIHISSALAM ? (1) sifat (1) sufi (1) SUNAN AMPEL (1) Sunan Gunung Jati (1) SUNAN KALIJAGA (1) Tentang Iskandar Zulkarnain (1) Terjemahan.. Surah Al Kahfi (1) tiliklah (1) TUAN GURU HAJI SHAARI (1) Ustaz Don (1) Ustaz Haji Shaari Mohd Yusu (1) Yakjud dan Makjud.. (1) Zahirnya wajah Allah dipersada alam (1)

DUA DUNIA